Cuki Warisan Palembang Terancam Hilang, Museum Dorong Revitalisasi hingga Era Digital

Uncategorized158 Dilihat

PALEMBANG, Deliknet.Com – Permainan tradisional Cuki khas Palembang kembali diangkat ke ruang publik setelah keberadaannya mulai tergerus perkembangan permainan digital dan modern.

Upaya pelestarian tersebut dibahas dalam Workshop Permainan Cuki yang digelar UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan, Selasa (29/9/2026), dengan mengusung tema “Reaktualisasi Cuki: Memperkuat Jati Diri Budaya Sumatera Selatan”.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo Wikramo Raden Muhammad Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn. (SMB IV) yang memaparkan materi tentang sejarah, strategi permainan dan revitalisasi Cuki.

Menurut SMB IV, Cuki merupakan permainan papan yang berkembang di masyarakat Palembang dan memiliki nilai sejarah serta sosial. Permainan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga melatih ketelitian, kesabaran, kemampuan menyusun strategi dan membaca langkah lawan.

Cuki dimainkan menggunakan papan berbentuk bujur sangkar dengan 100 titik pertemuan garis serta 120 buah Cuki berwarna hitam dan putih. Permainan dapat dimainkan oleh dua hingga empat orang dengan pembagian buah sesuai jumlah pemain.

Pelestari sekaligus pemain Cuki, Kemas Muhammad Yunus, menjelaskan bahwa permainan tersebut memiliki sejumlah perangkat dan aturan khusus, termasuk penggunaan dadu atau pare serta oncak. Salah satu aturan menarik terjadi ketika lemparan pertama menghasilkan angka satu, yang memungkinkan pemain mengambil lima buah Cuki secara bebas.

Jejak permainan Cuki juga dikaitkan dengan sejarah Palembang. Kemas Muhammad Yunus menyebut pernah ditemukan buah Cuki berbahan batu di kawasan perairan Sungai Musi pada kedalaman sekitar 7 hingga 9 meter yang diperkirakan berasal dari masa Sriwijaya.

Papan dan perangkat Cuki juga tersimpan di Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa serta Museum Kota Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Namun, keberadaan Cuki saat ini dinilai semakin langka. Minimnya pengetahuan masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan permainan tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan Dr. H. Rudi Irawan, S.Sos., M.Si., melalui Kepala UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan Anang Purnomo Kurniawan, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa pelestarian Cuki bukan sekadar mempertahankan permainan tradisional, tetapi juga menjaga identitas budaya Sumatera Selatan.

Cuki dinilai memiliki nilai pendidikan, moral, sportivitas, kesabaran dan kebersamaan. Permainan tersebut juga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan wisata budaya.

Di tengah perkembangan teknologi, pelestarian Cuki mulai diarahkan ke ruang digital. Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) bahkan telah mengembangkan aplikasi permainan Cuki bernama GO CUKI.

Digitalisasi tersebut diharapkan menjadi salah satu cara agar Cuki tetap dikenal generasi muda yang lebih akrab dengan telepon pintar dan permainan daring.

Panitia workshop, Amarullah, S.H., mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari pengalaman lomba Cuki pada 2025 yang masih minim peserta karena pengetahuan masyarakat mengenai permainan tersebut terbatas.

Workshop 2026 diikuti 130 peserta yang berasal dari guru, pelajar, mahasiswa, instansi, forum dan komunitas. Peserta diharapkan tidak hanya memahami permainan Cuki, tetapi juga ikut memperkenalkannya di sekolah, kampus, keluarga dan lingkungan masyarakat.

Ke depan, Cuki juga didorong untuk memiliki ruang dalam muatan lokal di sekolah serta dikembangkan sebagai permainan edukatif berbasis budaya.

Dengan demikian, tantangan pelestarian Cuki bukan lagi sekadar menyimpan papan dan buah permainannya di museum, melainkan bagaimana membuat warisan permainan Palembang tersebut kembali dimainkan, dipelajari dan dikenal generasi baru, termasuk melalui teknologi digital.(Fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *