MBG di Air Sugihan OKI Diuji! Puluhan Siswa Diduga Keracunan Usai Santap Makanan Bergizi, Pengawasan Dipertanyakan

Uncategorized111 Dilihat

OKI, Deliknet.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini dipromosikan sebagai program strategis untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah kini menghadapi ujian serius. Sebanyak 38 siswa di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG yang disajikan pada Jumat (24/7/2026).

Melansir pemberitaan Sumatera Ekspres, para siswa berasal dari SDN 1 Bandar Jaya, MI Nurul Huda, dan SMPN 1 Bandar Jaya. Tidak lama setelah menyantap makanan, mereka dilaporkan mengalami mual, muntah, dan sakit perut hingga harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.

Menu yang disajikan terdiri atas nasi putih, ayam goreng, tumis wortel dan kacang, tahu isi wortel, sambal, serta buah salak. Secara kasatmata makanan terlihat normal. Namun, sejumlah siswa mengaku mencium aroma tidak biasa dari lauk ayam yang mereka konsumsi.

Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium. Petugas kesehatan telah mengambil sampel makanan dan mengirimkannya ke laboratorium di Palembang guna memastikan apakah terdapat kontaminasi pada makanan yang disajikan.

Kepala Puskesmas Bandar Jaya, Sentot, S.Kep., Ners., menyampaikan bahwa kondisi seluruh siswa yang sempat menjalani perawatan terus membaik dan masih berada dalam pemantauan tenaga kesehatan.

Sementara itu, Pengawas Gizi SPPG Desa Bandar Jaya, Agus Riswanto, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa penyelenggara selama ini berupaya menjalankan prosedur penyediaan makanan sesuai ketentuan.

Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa keberhasilan Program MBG tidak cukup hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang dibagikan. Yang jauh lebih penting adalah jaminan keamanan pangan. Program yang membawa nama “bergizi” harus mampu memberikan rasa aman kepada anak-anak dan orang tua, bukan justru memunculkan kekhawatiran akibat dugaan gangguan kesehatan setelah makanan dikonsumsi.

Evaluasi menyeluruh terhadap rantai penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga penyajian, menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Pengawasan administratif semata tidak akan cukup apabila aspek higienitas dan keamanan pangan masih menyisakan celah.

Publik juga berhak memperoleh hasil pemeriksaan laboratorium secara terbuka, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Transparansi diperlukan agar tidak muncul spekulasi yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap Program MBG.

Apabila hasil uji laboratorium membuktikan adanya kelalaian dalam proses penyediaan makanan, maka evaluasi menyeluruh serta penegakan tanggung jawab harus dilakukan secara tegas. Sebaliknya, apabila penyebab gangguan kesehatan tersebut terbukti bukan berasal dari makanan Program MBG, pemerintah juga berkewajiban menyampaikan hasilnya secara terbuka agar tidak menimbulkan stigma maupun preseden buruk terhadap program yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia.(Pov/Her)

Sumber: Melansir pemberitaan Sumatera Ekspres.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *