1.000 Ton Sampah per Hari, Palembang Tak Lagi Andalkan Petugas, Warga Didorong Ubah Pola Pikir

Uncategorized81 Dilihat

Palembang, Deliknet.Com – Kota Palembang menghadapi persoalan yang tidak bisa lagi disapu ke pinggir jalan: produksi sampah harian yang menyentuh angka 900 hingga 1.000 ton. Angka yang terlalu besar untuk ditangani hanya oleh petugas kebersihan.

Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, menegaskan bahwa pendekatan lama tak lagi cukup. Fokus pemerintah kini bukan sekadar mengejar penghargaan seperti Adipura, tetapi membangun kesadaran masyarakat lewat program KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi).

Pengelolaan sampah tidak bisa dibebankan hanya kepada DLHK atau Pasukan Kuning. Ini tanggung jawab bersama,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Program KIE digagas sebagai upaya mengubah kebiasaan dari level paling dasar, rumah tangga. Pemerintah ingin warga tidak lagi sekadar membuang, tapi mulai memilah dan mengelola sampahnya sendiri.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palembang, Ahmad Mustain, menyebut edukasi sebagai kunci. Tanpa perubahan perilaku, volume sampah akan terus naik tanpa kendali.

Ia memaparkan, rata-rata produksi sampah per orang saat ini mencapai 0,7 kilogram per hari. Targetnya, lewat edukasi masif, angka itu bisa ditekan hingga 0,3 kilogram.

Untuk mempercepat hasil, Pemkot juga akan mengintegrasikan program ini dengan LSDP dari Kementerian Dalam Negeri. Dua kecamatan dipilih sebagai proyek percontohan, yakni Kecamatan Sukarami dan Kecamatan Sako.

Kedua wilayah ini sengaja dipilih karena lokasinya cukup jauh dari pusat pengolahan sampah di Keramasan. Logikanya sederhana: jika pengelolaan di hulu berhasil, beban di hilir akan berkurang drastis.

Selain itu, Pemkot mendorong langkah konkret seperti mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai dan mengolah sampah organik menjadi kompos. Edukasi juga akan menyasar sekolah, dengan target membangun kebiasaan hidup minim sampah sejak dini.

Di tingkat kecamatan, pengelolaan akan diperkuat melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), sehingga hanya residu kecil yang perlu dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Jika berjalan sesuai rencana, dampaknya bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tapi juga efisiensi anggaran. Biaya angkut dan operasional bisa ditekan, sesuatu yang sering luput dibahas saat bicara sampah.

Program ini memang terdengar ideal. Tapi tanpa keterlibatan warga, semua akan kembali ke pola lama: sampah menumpuk, petugas disalahkan, lalu kota kembali sibuk mengejar bersih di atas kertas.(Hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *