Bukan Sekadar Percantik Kota, Ratu Dewa Dorong Wajah Baru Palembang Sarat Makna dan Identitas

Uncategorized441 Dilihat

Palembang, Deliknet.Com – Pemerintah Kota Palembang mulai menggeser arah penataan kota dari sekadar “cantik di mata” menjadi “berarti di hati”. Program beautifikasi kini didorong tak hanya soal estetika, tapi juga sarat nilai sejarah dan identitas lokal.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, memimpin langsung rapat pembahasan Detail Engineering Design (DED) penataan kota di ruang Vidcon rumah dinasnya, Selasa (3/3/2026). Rapat itu tak berhenti pada urusan teknis, melainkan berkembang menjadi forum strategis untuk membedah arah besar wajah Palembang ke depan.

Dalam forum tersebut, Dewa menekankan bahwa setiap pembangunan fisik harus punya “cerita”. Bukan sekadar bangunan yang berdiri, tapi ruang yang merepresentasikan karakter kota.

Ruang publik yang dibangun harus punya makna. Ada filosofi, nilai sejarah, dan identitas Palembang di dalamnya,” tegasnya.

Sejumlah proyek strategis ikut dibedah, mulai dari DED jembatan dan air terjun menari, kawasan Kambang Iwak, Taman Kambang Iwak Kecik, kawasan Siti Khadijah, hingga penataan Taman Keramasan. Tak ketinggalan, penataan median jalan dan taman di koridor utama kota juga masuk dalam daftar prioritas.

Beberapa titik vital yang menjadi perhatian antara lain jalur Simpang Polda–Bandara, Simpang Polda–Bundaran Air Mancur Masjid Agung, Jalan Ahmad Yani, DI Panjaitan, Rasyid Sidiq, hingga Wahid Hasyim. Kawasan ini dinilai sebagai “etalase kota” yang pertama kali dilihat pendatang.

Namun, Dewa tampaknya tak ingin proyek-proyek ini berakhir jadi sekadar proyek kosmetik tahunan. Ia meminta seluruh rekanan memaparkan rencana secara detail, mulai dari konsep desain, anggaran, tahapan pengerjaan, hingga dampak jangka panjang terhadap tata ruang kota.

Beberapa desain bahkan langsung diminta direvisi. Alasannya klasik tapi sering diabaikan: kurang kuat secara identitas lokal dan belum selaras dengan karakter Palembang.

Revisi difokuskan pada penguatan unsur lokalitas, penyesuaian lanskap, serta menjaga proporsi bangunan agar tidak “tabrakan” dengan lingkungan sekitar. Sebuah langkah yang, kalau konsisten, bisa menyelamatkan kota dari deretan proyek indah tapi terasa asing.

Langkah ini menegaskan bahwa Pemkot Palembang mulai serius membangun wajah kota secara sistematis, bukan sekadar mengejar tampilan instan.

Di tengah ambisi tersebut, Palembang dihadapkan pada tantangan klasik: bagaimana meramu warisan sejarah sejak era Sriwijaya dengan tuntutan kota modern yang terus berkembang.

Penataan ruang publik yang rapi, hijau, dan representatif diharapkan bukan hanya meningkatkan kualitas hidup warga, tapi juga memperkuat daya tarik wisata.

Mempercantik kota bukan hanya soal tampilan, tapi bagian dari strategi besar membangun citra Palembang sebagai kota bersejarah yang modern dan nyaman,” tutup Dewa.(HZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *