Inflasi Palembang Tembus 4,37 Persen, Harga Emas dan Pangan Menanjak Pemkot Andalkan Jurus 4K Redam Gejolak

Uncategorized71 Dilihat

Palembang, Deliknet.com – Tekanan harga di Kota Palembang mulai menunjukkan taringnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 secara tahunan (year-on-year) mencapai 4,37 persen, menandakan kenaikan harga yang makin terasa di kantong masyarakat.

Secara bulanan (month-to-month), inflasi tercatat 0,58 persen, lebih tinggi dibandingkan Januari. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) berada di angka 0,63 persen.

Lonjakan ini bukan datang tanpa sebab. Harga emas perhiasan menjadi “bintang utama” penyumbang inflasi, seiring tren kenaikan harga emas global. Di saat bersamaan, komoditas pangan ikut terdorong naik akibat kombinasi klasik: cuaca ekstrem dan lonjakan permintaan jelang Ramadan.

Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno, mengungkapkan bahwa emas perhiasan menyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,240 persen secara bulanan.

Kenaikan harga emas mengikuti tren global dan menjadi faktor dominan inflasi bulan ini,” jelasnya.

Selain emas, sejumlah bahan pangan ikut memperkeruh situasi. Cabai merah, daging ayam ras, telur ayam, tomat, hingga ikan dencis tercatat mengalami kenaikan harga dengan kontribusi bervariasi terhadap inflasi.

Gangguan produksi akibat cuaca ekstrem disebut sebagai biang kerok tersendatnya pasokan hortikultura. Akibatnya, distribusi terganggu dan harga di pasar tradisional ikut terdongkrak.

Di sisi lain, permintaan masyarakat yang meningkat menjelang Ramadan mempercepat laju kenaikan harga, terutama pada komoditas protein hewani dan kebutuhan pokok harian.

Dari 393 komoditas yang dipantau, sebanyak 89 komoditas mengalami kenaikan harga, 29 komoditas turun, dan sisanya relatif stabil. Artinya, inflasi kali ini lebih dipicu oleh komoditas tertentu, bukan kenaikan harga secara menyeluruh.

Secara tahunan, tekanan inflasi terbesar datang dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil 1,82 persen, terutama akibat penyesuaian tarif listrik. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,74 persen, yang lagi-lagi dipengaruhi lonjakan harga emas.

Ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi di Palembang tidak hanya berasal dari pangan, tetapi juga dari faktor struktural seperti tarif dan harga global.

Namun, tidak semua kabar buruk. Penurunan harga BBM nonsubsidi memberikan sedikit “napas” dengan andil deflasi sebesar 0,045 persen. Turunnya harga minyak dunia serta stabilnya nilai tukar rupiah menjadi faktor pendorong penurunan tersebut.

Pemkot Andalkan Strategi 4K

Menghadapi tekanan ini, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menegaskan pemerintah akan memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K: ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Menurutnya, kombinasi turunnya produksi akibat cuaca dan lonjakan permintaan menjelang Ramadan menjadi pemicu utama kenaikan harga, khususnya cabai dan daging ayam.

Sebagai langkah konkret, Pemkot akan menggencarkan pasar murah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan, mengoptimalkan peran pasar tradisional, serta memperluas kerja sama antar daerah untuk menjaga pasokan pangan.

Selain itu, upaya perbaikan infrastruktur seperti rehabilitasi jalan dan revitalisasi pasar juga dilakukan untuk memperlancar distribusi barang.

Pemerintah kota juga menekankan pentingnya sinergi dengan BPS dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berbasis data, guna merespons dinamika harga secara cepat dan terukur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *