Songket Limar Bunga Cogan Berusia Seabad Jadi Primadona Baru Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Uncategorized24 Dilihat

Palembang, Deliknet.Com –  Warisan tekstil tradisional Palembang kembali mencuri perhatian. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II kini menampilkan Kain Songket Limar Bunga Cogan yang diperkirakan telah berusia sekitar 100 tahun. Kehadiran koleksi ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat dan wisatawan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sulaiman Amin, menjelaskan bahwa songket bersejarah tersebut resmi dipamerkan sejak 9 Februari 2025. Menurutnya, kain langka ini langsung menarik minat pengunjung yang ingin melihat lebih dekat detail tenunan khas Palembang dengan nilai historis tinggi.

Songket Limar Bunga Cogan memiliki cerita panjang. Kain tersebut sebelumnya berada di tangan kolektor asal Australia, Pete Muskens, sebelum akhirnya dikembalikan ke Palembang. Pengembalian itu disambut sebagai momen penting dalam penguatan identitas budaya daerah.

Pemerintah Kota Palembang menerima kembali kain tersebut pada 29 Oktober 2025. Kini, masyarakat dapat menyaksikan langsung keindahan songket yang pernah menjadi simbol status sosial kalangan bangsawan Palembang pada masanya.

Secara fisik, songket berukuran 80 x 200 sentimeter itu menampilkan tenunan limar halus dengan benang emas, mencerminkan keahlian tinggi para penenun tradisional. Motif Bunga Cogan yang menghiasi kain juga sarat makna estetika dan filosofi Melayu Palembang.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menegaskan bahwa kain tersebut merupakan aset budaya yang sangat berharga. Ia memastikan pengamanan koleksi dilakukan secara ketat, termasuk melalui pengawasan Satpol PP.

Kehadiran Songket Limar Bunga Cogan ini menjadi kebanggaan Palembang. Kami berharap koleksi ini dapat memperkaya pengalaman wisata budaya di museum,” ujarnya.

Dengan tambahan koleksi langka tersebut, museum diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai ruang edukasi sejarah dan budaya Palembang, sekaligus destinasi yang wajib dikunjungi bagi pencinta warisan tradisional.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *